CEO Honor Lega – Honor Smartphone Tak Lagi Kena Sanksi AS

Honor Device Co kini tak lagi dikekang oleh sanksi yang menghantam bisnis smartphone Huawei Technologies Co. Dan kini, Honor Device Co memiliki misi baru untuk tahun 2021: bersaing dengan mantan pemiliknya (Huawei) dan Apple di pasar secara setara.

“Misi utama kami tahun ini adalah membuat ponsel andalan yang dapat bersaing dengan Apple dan Huawei di China.”

Honor CEO George Zhao Ming

Bukan hal yang aneh jika melihat perusahaan teknologi berkumpul berdekatan di pusat teknologi selatan China di Shenzhen, namun rumah baru Honor untuk 8.000 karyawannya merupakan lambang dari situasi perusahaan saat ini. Meskipun menjadi saingan smartphone baru Huawei, namun Honor dibentuk dalam citra dan restu dari mantan perusahaan induknya.

“Ketika tim Honor meninggalkan Huawei, kami mendapat begitu banyak berkah dan dukungan dari mereka sehingga kami hanya memiliki sedikit hambatan dalam pengembangan dan peluang kami.”

Didirikan pada tahun 2013, Honor adalah pahlawan yang tak disangka mampu membantu Huawei menyalip penjualan Apple dan Samsung Electronics di dalam dan luar negeri dengan menawarkan smartphone trendi kepada konsumen muda dengan harga rata-rata antara US$ 150 hingga US$ 220. Pada tahun 2020, merek tersebut memiliki lebih dari 200 juta pengguna di seluruh dunia.

Ketika terkena sanksi perdagangan AS, Huawei tidak lagi memiliki akses siap pakai ke perangkat keras dan perangkat lunak yang dibutuhkannya agar tetap kompetitif. Jadi daripada mengorbankan merek yang berkinerja baik, akhirnya perusahaan memutuskan untuk “berpisah”.

Di bulan November tahun lalu, Huawei menjual merek smartphone murahnya ke konsorsium yang terdiri lebih dari 30 dealer dan agen merek tersebut. Shenzhen Zhixin New Information Technology, sebuah perusahaan baru yang didirikan untuk akuisisi, dibentuk oleh Shenzhen Smart City Technology Development Group, yang dimiliki oleh pemerintah kota.

Tidak ada hitungan yang pasti dari jumlah anggota konsorsium, tetapi menurut Huawei, mereka termasuk pengecer peralatan dan elektronik Suning dan beberapa perusahaan investasi milik negara di Shenzhen.

Hasil akhir dari kesepakatan tersebut juga tidak dipublikasikan, dan Huawei menolak untuk berkomentar. Perkiraan nilai penjualan berkisar dari US$ 15 miliar, seperti dilansir Reuters, hingga US$ 40 miliar, menurut media China Huxiu.

Pada pesta perpisahan untuk Honor dan karyawannya, Ren dari Huawei mengatakan ia berharap Honor akan “menjadi pesaing terkuat Huawei di dunia, melampaui Huawei, dan bahkan menggunakan mengalahkan Huawei sebagai motivasi Anda.”

Meskipun Zhao mengatakan menurutnya tidak mungkin menjatuhkan Huawei, dia mengatakan kedua merek tersebut sebetulnya telah bersaing selama bertahun-tahun.

Minggu lalu, selain memperkenalkan smartphone baru, Honor juga mengumumkan kemitraan mereka dengan perusahaan semikonduktor terbesar di dunia, termasuk Intel dan AMD, serta Qualcomm, perancang chip smartphone terbesar. Zhao bahkan mengatakan perusahaan sedang dalam pembicaraan dengan Google dan berharap dapat melanjutkan kemitraannya dengan perusahaan tersebut.

Mendapatkan chip Qualcomm di ponsel Honor merupakan langkah besar bagi Honor, juga aplikasi dan layanan Google yang menjadi komponen paling penting dari setiap smartphone Android yang dijual di luar China. Ketika Huawei terputus dari Layanan Seluler Google (GMS), pasar luar negeri smartphone Huawei langsung ambruk.

Agar Honor bisa terus sukses di luar Cina, aplikasi Google yang sudah diinstal, termasuk pencarian, Google Maps, YouTube dan, yang paling penting, toko aplikasi Google Play merupakan sebuah keharusan.

Jumat lalu, Honor meluncurkan View40 baru, smartphone pertamanya sejak berpisah dari Huawei. Saat ini hanya dijual di China, dan tidak ada informasi tentang peluncuran internasional.

Sementara perusahaan belum mengonfirmasi apakah akan mengadakan GMS di luar China, Honor masih menunggu konfirmasi bahwa Google akan sekali lagi mendukung ponselnya.

Sesuai dengan niat Zhao untuk mendorong pasar Honor, View40 adalah ponsel kelas menengah dengan harga mulai dari 3.599 yuan (US$ 555). Beberapa fitur yang biasanya tersedia di ponsel premium seperti pengisian daya 66 watt dan layar 120Hz hadir di sini.

Kemitraan baru ini juga dapat memberikan keleluasaan bagi perusahaan dalam mengembangkan produk baru. Tidak hanya di lini smartphone, bersamaan dengan View40, Honor juga mengumumkan laptop MagicBook baru minggu lalu, sesuatu yang hanya mungkin terjadi dengan kerjasama berkelanjutan dengan Intel dan Microsoft.

Tanpa Honor, Huawei semakin tertinggal di pasar smartphone. Honor melihat peluang untuk tumbuh dengan kemitraan barunya, meski mungkin masih ada kendala.

Untuk mencapai posisi teratas pasar, terutama di belahan dunia di mana orang memiliki banyak pilihan untuk memilih produk, Honor akan membutuhkan lebih dari sekedar chip Qualcomm dan Intel. Itu adalah tantangan yang disadari Zhao.

Namun dia juga menekankan pentingnya mempertahankan kemitraan ritel perusahaan, agar produknya benar-benar sampai ke tangan konsumen.

Terjemahan bebas dari South China Morning Post

The following two tabs change content below.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *